Bank Dunia (World Bank) baru saja merilis laporan
triwulanan perekonomian Indonesia dengan
judul ‘Membawa Perubahan’ atau delivering change. Sebagai ringkasan,
disebutkan bahwa laju pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2014 ini mengalami
perlambatan, dipengaruhi oleh melemahnya investasi dan rendahnya tingkat
ekspor.
Kebijakan yang diambil pemerintah untuk menaikkan harga BBM beberapa
waktu yang lalu ikut mendorong tingginya tingkat inflasi untuk sementara waktu,
akan tetapi memberikan kelonggaran bagi ruang fiskal dengan proyeksi defisit
fiskal pada tahun 2015 sebesar 2,0 persen terhadap (Gross Domestic Product)
atau GDP.
Menurut pemerintah, penghematan yang didapat dari pengalihan
subsidi ini akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang memang masih
kurang. Dimana besarnya subsidi BBM mencapai lebih dari 400 Triliun jika tidak ada
pengalihan. Yang pada kenyataannya justru sering jebol.
Meski demikian, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi
Indonesia sebesar 5,2 persen pada tahun 2015 dan meningkat menjadi 5,6 persen
di tahun 2016. Angka 5,2 persen ini
lebih rendah dibandingkan asumsi dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebesar
5,8 persen berdasar RAPBN 2015 yang disusun oleh pemerintahan SBY-Boediono.
Untuk diketahui, saat ini defisit APBN mencapai Rp 241,5
Trilyun atau 2,4 persen terhadap GDP Indonesia. Sementara untuk tahun 2015
defisitnya mencapai angka Rp 245,9 Triliun atau sebesar 2,21 persen terhadap
GDP. Angka tersebut bisa jadi berubah mengingat pemerintah Jokowi-JK saat ini
masih akan menyusun kembali RAPBN untuk 2015 bersama dengan DPR.
Selanjutnya, sebagaimana diketahui beberapa waktu yang lalu
rupiah terdepresiasi pada level 12.900
terhadap dollar Amerika. Terendah sejak tahun 1998. Meski kemudian turun
kembali. Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar ini
disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
Faktor internal berasal dari masih rendahnya tingkat kepercayaan
investor terhadap pemerintahan yang baru. Sedangkan faktor eksternal menyangkut
kebijakan The Fed dan menurunnya
harga minyak dunia.
Saat ini perekonomian Amerika telah bangkit dari
kejatuhannya pada tahun 2008 akibat subprime mortgage. Lebih cepat
dibanding negara-negara zona EURO. Pertumbuhannya diprediksi mencapai 3,
9 persen pada kuartal ketiga tahun ini. Sumbangan terbesarnya berasal dari investasi
dan sektor konsumsi. Hal ini tentu cukup baik karena Amerika Serikat hanya
butuh 6 tahun untuk pulih dari krisis.
Bangkitnya ekonomi Amerika tentu akan berdampak pada
perekonomian negara lain termasuk Indonesia. Investasi yang mengalir ke
negara-negar Asia akibat krisis global tahun 2008 diperkirakan akan kembali ke
negara asalnya, Amerika. Terlebih bank central Amerika, The Fed yang
saat ini dipimpin Janet Yallen berencana untuk menaikkan tingkat suku bunganya.
Dari dalam negeri sendiri, kondisi politik nasional juga
akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian. Banyaknya demonstrasi buruh
menuntut kenaikan upah beberapa waktu yang lalu tentu membuat investor berpikir
ulang mengenai keputusannya untuk berinvestasi. Sementara angkatan kerja Indonesia
pada tahun 2014 ini mencapai 126 juta jiwa dengan tingkat pengangguran mencapai
5,7 persen (Data Bank Dunia).
Tantangan bagi pemerintah ke depan berkaitan dengan ekonomi
kita adalah menjaga tingkat inflasi agar lebih rendah dibanding pertumbuhannya.
Terlebih selama dua tahun terakhir inflasi kita mencapai angka lebih dari 7
persen sementara pertumbuhan ekonomi hanya 5 persen-an saja.
Dengan pertumbuhan yang lebih besar dibanding inflasi akan
ada surplus guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Konsumsi perlu dijaga
tetapi tidak harus dibatasi. Karena menyangkut demand terhadap
produk-produk terutama sektor konsumsi
yang menjadi pendorong tumbuhnya perekonomian. Hal ini ini terjadi akibat
naiknya golongan menengah keatas Indonesia atau dengan kata lain semakin
banyaknya Orang Kaya Baru (OKB) menyebabkan tingginya tingkat konsumsi kita,
terutama menyangkut produk impor berupa bahan baku untuk kebutuhan industri. Selain
tingginya minyak tentunya.
Sehingga ketimpangan
impor yang lebih rendah ini menyebabkan defisit neraca perdagangan. Yang salah
satunya berakibat juga pada menurunnya nilai tukar.
Selain itu, pendapatan negara perlu dioptimalkan melalui
pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Di dalam RAPBN 2015 saat ini,
pendapatan pajak ditarget sebesar Rp1.201,7
Triliun. Dengan PNBP sebesar Rp 410,3 Triliun. Ditambah kepabeanan dan cukai
sebesar Rp 178,3 Triliun dan Hibah sebesar 3,3 Triliun. Sehingga total
pendapatan negara sebesar Rp 1. 793, 6 Triliun.
Terkait dengan pajak tentu pemerintah lebih tahu dan telah mengupayakan berbagai macam cara. Maka tugas selanjutnya ada pada kita, masyarakat Indonesia. Untuk taat pajak, membayar tepat waktu dan sesuai dengan kadar jumlahnya.
Terkait dengan pajak tentu pemerintah lebih tahu dan telah mengupayakan berbagai macam cara. Maka tugas selanjutnya ada pada kita, masyarakat Indonesia. Untuk taat pajak, membayar tepat waktu dan sesuai dengan kadar jumlahnya.
Karena total pendapatan negara masing lebih rendah dibanding
anggaran belanja, maka besar kemungkinan kekurangan akan diambilkan dari sektor
hutang. Apakah dalam bentuk surat hutang (obligasi) baik konvensional maupun
syariah (sukuk).
Ini sebenarnya peluang
bagi masyarakat untuk berinvestasi. Selain sebagai wujud rasa dan jiwa nasionalisme karena jika tidak, surat hutang negara bisa jadi dimiliki
asing. Yang artinya hutang kita lagi-lagi semakin dikuasai pihak luar. Karena obligasi
merupakan salah satu perangkat investasi yang menjanjikan apalagi berasal dari
negara yang lebih terjamin pembayarannya. Jangan sampai kita sering bicara dan mengkritik hutang negara tetapi kita sendiri abai
terhadapnya.
Menyangkut belanja pegawai, konsumerisme pegawai negeri
sipil (PNS) sebagai dampak naiknya gaji yang diterima bernilai positif secara
ekonomi. Karena mendorong tumbuhnya sektor swasta disebabkan tingginya
permintaan sebagai akibat naiknya daya
beli. Karena itu, perlu dikaji ulang bagaimana menyikapi kondisi ini. Apakah
dengan meminta berhemat ataukah dengan cara yang lain.
Demand yang berasal dari pemerintah harus tetap
dipertahankan, karena porsinya cukup besar. Terutama karena pemerintah akan
membangun banyak infrastruktur maka akan meningkatkan industri terkait, seperti
industri baja misalnya.
Sehingga target pertumbuhan diatas 5 persen merupakan hal
yang realistis. Tetapi tetap harus hati-hati dan waspada karena tren
perekonomian dunia yang cenderung melambat. Tiongkok misalnya mengalami
perlambatan di angka 7 persen padahal biasanya bisa 9 persen-an setiap
tahunnya.
Dengan demikian, selama pertumbuhan bisa dijaga maka tingkat
kesejahteraan bisa ditingkatkan. Kita boleh dan harus selalu optimis. Bahkan,
jika bisa pertumbuhan itu harus di atas
7 persen setiap tahunnya. Agar bisa mencapai negara Indonesia yang maju tahun sebagaimana
harapannya. Indonesia maju yang saya dan Anda telah lama mimpikan. Bukan?







