Pendapat saya benar namun mungkin memuat kesalahan, pendapat orang lain salah namun mungkin juga ada benarnya (Imam Syafi'i) = Selamat Membaca =

Selasa, 10 April 2012

Kenapa makan itu harus dihabiskan?


Makan adalah kebutuhan hidup  setiap makhluk hidup. Apapun jenisnya, setiap yang hidup pasti butuh dan harus makan untuk menghasilkan enegi agar dapat tetap beraktivitas termasuk beribadah. Tidak peduli dari famili, ordo atau genus apa makhluk tersebut berasal. Makanan yang baik bagi manusia adalah seperti yang dianjurkan,  yaitu 4 sehat 5 sempurna (asal bukan 4 sehat 5 alhamdulillah hehe...). Intinya makanan yang kita makan sebaiknya mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan unsur-unsur esensial lain yang dibutuhkan tubuh kita.
Kebanyakan orang, ketika selesai makan sedikat atau banyak menyisakan makananannya. Hal semacam ini tentunya sangat disayangkan, karena sumber daya makanan terbatas. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Robert Malthus   di tahun 1798 dalam An Essay on the Principle of Population (Sebuah Esai tentang Prinsip mengenai Kependudukan) bahwa populasi bertambah berdasarkan deret ukur (geometris) yaitu 1,2,4,8,16,32,... sedangkan sumber daya alam (makanan) bertambah berdasarkan deret hitung (aritmatika) 1,2,3,4,5,....
Berdasarkan  teori tersebut, menurut Malthus kelebihan populasi dibanding sumber makanan akan menyebabkan peperangan untuk memperebutkan sumber daya yang ada dimana jumlahnya terbatas. Jumlah populasi akan mengalahkan pasokan makanan, yang menyebabkan berkurangnya jumlah makanan per orang (Case & Fair, 1999: 790). Bukti dari teori ini mungkin seperti perang yang terjadi di Timur Tengah yang bertujuan  untuk mendapatkan minyak sebagai salah satu sumber daya industri. Sehingga energi dalam bentuk sumber penghasil makanan harus dijaga dan dikembangkan bukan hanya sumber energi penghasil listrik atau energi lainnya termasuk nuklir saja yang dijaga dan dikembangkan.
Mengapa makan itu harus dihabiskan? Ada banyak alasan yang dapat diutarakan untuk mengurai jawaban pertanyaan tersebut. Salah satunya Bapak H. Drs Imron Jamil menyebutkan bahwa jika kita menganalogikan beras sebagai salah satu sumber pangan seperti manusia, yang mana manusia memiliki siklus hidup yaitu lahir, balita, remaja, dewasa/muda, tua, dan akhirnya meninggal dunia maka siklus padi berupa benih, ditebar, tumbuh, dipupuk dirawat dan ketika tiba saatnya dipanen untuk dijadikan sumber pangan.
Manusia setelah meninggal tentunya berkeinginan untuk masuk surga. Disini pilihannya hanya ada dua, yakni surga atau neraka. Demikian halnya dengan beras, setelah dipanen dan diproses sebagai sumber pangan (nasi) maka pilihannya juga  hanya ada dua yakni masuk kedalam perut manusia atau dibuang/ menjadi pakan hewan.
Tentunya tidak ada manusia yang ingin masuk neraka, semua ingin masuk surga. Maka jika kita berpikir untuk masuk surga alangkah kejamnya jika kita membiarkan nasi atau makanan  tadi tidak kita makan dan akhirnya masuk “neraka”. Betapa tidak menghargainya kita terhadap bapak petani yang telah bersusah payah menanam padi sehingga menjadi beras dan akhirnya diolah jadi makanan untuk kita tetapi kita justru membuangnya atau memberikan kepada ternak meskipun masih sangat layak dimakan.
Sebagai manusia yang baik yang ingin masuk surga sudah sepantasnya kita pun bersikap baik terhadap makanan kita dan membirkannya masuk kedalam tubuh yaitu surga bagi makanan. Jadi setelah membaca ini mari kita biarkan banyak nasi dan makanan kita lainnya untuk masuk surga asal tidak berlebihan, Firman-Nya, wa quluu wasyrobu wa laa tusyrifuu, makanlah dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Mengapa? Karena Inallaha la yuhibul musyrifiin, Sesunggunya Allah benci kepada orang-orang yang berlebih-lebihan.